BARITO UTARA, PARLEMENRAKYAT.ID — Teror berdarah merobek ketenangan wilayah perbatasan Kalimantan Timur–Kalimantan Tengah. Minggu sore yang seharusnya biasa, berubah menjadi tragedi paling kelam bagi satu keluarga di Desa Benangin II, Kecamatan Teweh Timur.
Sekitar pukul 16.30 WIB, tiga orang tak dikenal datang menggunakan mobil Kijang. Awalnya tampak biasa—mereka bertanya identitas. Namun dalam hitungan detik, situasi berubah menjadi neraka.
Senjata tajam diayunkan tanpa ampun. Serangan berlangsung brutal, cepat, dan terarah. Korban tak diberi kesempatan melawan.
Lima nyawa melayang di tempat. Di antaranya, seorang bocah berusia tiga tahun—David—yang ikut menjadi korban keganasan tanpa hati. Empat korban lain yakni Cuah (55), Hasna (40), Tasya Haulina (17), dan Ono (50).
Satu korban selamat, Alfian (40), kini terbaring kritis di RSUD Muara Teweh, menjadi saksi hidup dari kebiadaban yang nyaris merenggut seluruh keluarganya.
Namun kekejaman pelaku tak berhenti di situ.
Setelah memastikan para korban terkapar, pelaku diduga menyisir area sekitar, mencari target lain. Mereka kemudian membakar pondok atau warung milik korban—seolah ingin menghapus jejak sekaligus meninggalkan pesan teror—sebelum kabur sekitar pukul 17.30 WIB.
Warga yang datang belakangan hanya menemukan pemandangan memilukan: tubuh-tubuh tak bernyawa, darah yang masih segar, dan sisa kebakaran yang mengepul.
Evakuasi dilakukan keesokan harinya. Lima jenazah dibawa menggunakan ambulans ke RSUD Muara Teweh, menambah panjang daftar duka yang menyelimuti desa tersebut.
Polisi bergerak cepat. Tiga nama telah dikantongi: LK (55), PS (50), dan MN (52), yang diketahui berasal dari desa sekitar. Namun hingga kini, mereka masih buron.
Motif? Masih gelap.
Yang jelas, tragedi ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. Ini adalah pembantaian yang mengguncang rasa aman masyarakat. Ketakutan kini menyelimuti warga, terutama di wilayah perbatasan yang selama ini jauh dari sorotan.
Desakan pun menguat—pelaku harus segera ditangkap, motif harus diungkap, dan keadilan harus ditegakkan.
Karena jika tidak, peristiwa ini bukan hanya meninggalkan luka… tapi juga ancaman bahwa tragedi serupa bisa terulang kapan saja.
[MASROBY]





