JAKARTA, PARLEMENRAKYAT.id — Banjir yang meluluhlantakkan Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra tak lagi dianggap sekadar bencana alam. Anggota Komisi III DPR RI, M. Nasir Djamil, menegaskan ada “kejahatan di hulu” yang harus dibongkar, menyusul temuan gelondongan kayu raksasa yang menghantam rumah warga dan infrastruktur. Ia pun mendesak Kejaksaan mengejar para pelaku hingga ke “lubang semut”.
Desakan itu disampaikan Nasir dalam rapat kerja Komisi III DPR RI bersama Pelaksana Tugas (Plt) Jaksa Agung, jajaran Jaksa Agung Muda, serta para Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) se-Indonesia. Nasir mengaku telah lama ingin menyampaikan persoalan tersebut, namun baru mendapat kesempatan berbicara setelah agenda rapat berjalan.
“Saya ini berasal dari daerah pemilihan Aceh II, delapan kabupaten/kota, enam di antaranya mengalami kerusakan yang sangat parah,” ujar Nasir. Ia menggambarkan, hampir seluruh infrastruktur di wilayah tersebut rusak berat, mulai dari jalan, jembatan, hingga rumah warga.
Nasir menilai, bencana yang melanda Aceh tidak bisa dipandang sebagai musibah alam semata. Ia menyebut, banjir kali ini membawa bukan hanya air dan lumpur, tetapi juga gelondongan kayu berukuran besar yang menghantam rumah-rumah warga dan fasilitas umum.
“Kehadiran para Kajati di lapangan menunjukkan ada masalah serius di hulu,” kata Nasir, seraya mengapresiasi Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang turun langsung meninjau lokasi terdampak.
Menurutnya, kondisi serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain di Sumatra. Berdasarkan penuturan warga dan tokoh masyarakat, gelondongan kayu yang terbawa arus menjadi salah satu penyebab utama besarnya kerusakan dan jatuhnya korban jiwa.
Fakta tersebut, kata Nasir, semakin menguatkan dugaan adanya praktik yang harus diusut secara hukum. Ia menduga ada aktivitas yang merusak lingkungan di kawasan hulu sungai, yang berdampak langsung pada bencana di wilayah hilir.
“Di situlah kemudian para tokoh masyarakat meminta kepada kami sebagai wakil mereka di parlemen agar aparat penegak hukum mengejar pelakunya sampai ke lubang semut,” ujar Nasir.
Ia menegaskan, masyarakat menaruh harapan besar kepada Kejaksaan agar tidak berhenti pada penanganan di permukaan, melainkan mengusut secara menyeluruh hingga ke akar persoalan. Penegakan hukum yang tegas, lanjut Nasir, menjadi kunci agar tragedi serupa tidak terus berulang.
“Kalau tidak diusut tuntas, banjir seperti ini akan terus terjadi. Dan yang selalu jadi korban adalah rakyat kecil,” pungkasnya.
[RED]





