Kades Bojong Jengkol Tinjau Langsung Lokasi Longsor dan Banjir: Bergerak Cepat, Gotong Royong Jadi Kunci

BOGOR, PARLEMENRAKYAT.id – Cuaca ekstrem kembali menguji kesiapsiagaan warga Desa Bojong Jengkol, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Hujan deras yang mengguyur wilayah ini mengakibatkan sejumlah titik mengalami bencana longsor dan banjir. Namun, respons cepat datang langsung dari pemimpin desa: Kepala Desa Bojong Jengkol, Awaludin Marifatulloh.

Sejak pagi, Awaludin turun langsung ke lapangan melakukan asesmen dan pendataan ke titik-titik terdampak. Salah satu lokasi paling parah berada di RW 09, yang mengalami longsor akibat buruknya saluran air. Bersama warga, pihak desa langsung bergerak memasang paralon untuk mengarahkan aliran air agar tidak membahayakan permukiman di sekitar tebing.

“Kami bergerak cepat, jangan sampai kejadian serupa terulang. Penanganan harus langsung dilakukan di titik rawan,” ujar Awaludin saat meninjau lokasi.

Tidak hanya di RW 09, RW 07 juga menjadi fokus perhatian sejak malam Minggu lalu. Akibat aliran dari Solokan Cipicung di Desa Cihideng Udik, air meluap ke wilayah Bojong Jengkol. Koordinasi langsung pun dilakukan dengan Kepala Desa Cihideng Udik, Haji Deni, serta Camat Ciampea dan pihak UPT Pengairan, memastikan penanganan darurat bisa dilakukan lintas wilayah.

“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Tapi ini bukan akhir. Justru jadi alarm bersama untuk membangun kesiapsiagaan jangka panjang,” lanjutnya.

Di titik lain, seperti RW 06 dan RW 01, genangan air dan limpahan limbah rumah tangga menjadi ancaman baru. Saluran yang tak mampu menampung debit air mengakibatkan luapan ke rumah-rumah warga. Penanganan langsung dilakukan warga bersama aparat desa untuk meminimalkan kerusakan.

Sinergi Kades & Mahasiswa IPB: Bangun Kampung Tangguh Pangan

Di tengah kesibukan menangani bencana, Awaludin juga menyempatkan berdiskusi dengan mahasiswa KKN IPB yang sedang bertugas di desa. Fokus pembicaraan adalah kedaulatan pangan dan pengelolaan sampah, dua isu vital yang akan dibentuk dalam aksi nyata bersama warga.

RW 06 ditetapkan sebagai Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB), sekaligus menjadi percontohan penguatan ketahanan pangan berbasis keluarga. Mahasiswa akan membantu warga menanam kebutuhan harian seperti cabe, tomat, dan beras secara terstruktur sesuai wilayah RW.

“Setiap RW nanti menentukan wilayah fokusnya—ada yang wilayah cabe, wilayah tomat, wilayah bawang, beras—sesuai kebutuhan warga dan program Dapur Makan Bergizi (DMBG),” jelas Awaludin.

Bulan September, seluruh RW akan menyusun RAB (Rencana Anggaran Biaya) untuk pengajuan ke BUMDes, yang akan didukung dalam RKPDes Tahun 2026. Dana desa akan dialokasikan maksimal 20% untuk mendukung ketahanan pangan, berdasarkan proposal kebutuhan riil dari masing-masing RW.

“Kita ingin RW jadi motor ketahanan pangan, bukan hanya saat darurat tapi juga jangka panjang. Semua warga harus punya tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Menatap Masa Depan dengan Antisipasi & Aksi Nyata

Hingga kini, setidaknya empat titik rawan bencana sudah teridentifikasi dan ditangani secara darurat. Langkah ke depan adalah memastikan setiap infrastruktur saluran air ditingkatkan, serta peran aktif masyarakat dalam gotong royong terus diperkuat.

“Kita sudah bergerak bersama. Mudah-mudahan ini jadi awal baik agar ke depan, setiap ancaman bisa kita hadapi dengan soliditas dan persiapan matang,” tutup Awaludin.

Pos terkait