BANYUATES, PARLEMENRAKYAT.id – Kesabaran warga Desa Mandeman, Kecamatan Banyuates, kian menipis. Aktivitas truk pengangkut hasil galian C yang melintas di jalur Desa Morbatoh tak hanya mengganggu, tetapi telah berubah menjadi sumber keresahan yang nyata.
Setiap hari, deru mesin truk bertonase besar memecah ketenangan desa. Jalan yang seharusnya menjadi akses utama warga kini berubah menjadi lintasan keras kendaraan berat. Dampaknya tak main-main: badan jalan rusak parah, debu beterbangan hingga masuk ke rumah-rumah, dan keselamatan warga dipertaruhkan.
“Ini jalan desa, bukan jalur tambang. Tapi faktanya, kami seperti hidup di tengah aktivitas tambang,” ujar seorang warga dengan nada kecewa.
Di balik kerusakan yang terlihat, ada pertanyaan besar yang menggantung: siapa yang bertanggung jawab? Hingga kini, tidak ada kejelasan terkait izin operasional, tidak ada tanda-tanda perbaikan jalan, dan belum terlihat langkah tegas dari pihak berwenang.
Kondisi ini memicu dugaan adanya pembiaran. Aktivitas truk terus berjalan seolah tanpa hambatan, sementara warga hanya bisa menyaksikan dampaknya setiap hari.
“Kalau memang ada izinnya, kenapa tidak disosialisasikan? Kalau tidak ada, kenapa aktivitas ini terus berlangsung?” ungkap warga lainnya.
Situasi yang awalnya sekadar keluhan kini mulai berubah menjadi sikap tegas. Warga Mandeman menyatakan penolakan terhadap aktivitas truk galian C yang melintas tanpa kejelasan dan solusi.
Bahkan, wacana penutupan jalan mulai menguat sebagai bentuk protes. Warga mendesak pemerintah desa, pihak kecamatan, hingga aparat penegak hukum untuk segera turun tangan dan mengambil langkah konkret.
Jika tidak ada respons dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin situasi akan berkembang menjadi konflik terbuka yang lebih luas.
Hingga berita ini dipublikasikan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola galian C maupun instansi terkait. Publik kini menunggu: apakah ada tindakan nyata, atau persoalan ini akan terus dibiarkan berlarut?
[RED]





