BOGOR, PARLEMENRAKYAT.ID — Langkah berani ditunjukkan dalam memperkuat sektor pertanian sekaligus menjawab kebutuhan industri pakan ternak yang terus meningkat. Berbasis di wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor, perusahaan rintisan ini mulai menggarap lahan jagung hibrida seluas 1.000 hektar dengan target produksi mencapai 5.000 ton.
Sebagai titik awal, tanam serempak digelar pada Selasa, 05 Mei 2026, di Desa Singasari, Kecamatan Jonggol, dengan luas lahan awal 100 hektar. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda dimulainya program kemitraan inti–plasma yang menggandeng petani lokal sebagai mitra utama.
Melalui skema tersebut, para petani mendapatkan dukungan menyeluruh. Mulai dari benih jagung hibrida sebanyak 25 kilogram per hektar, pupuk non-subsidi dan organik, pestisida, hingga pembenah tanah seperti asam amino dan asam humat. Tak hanya itu, bantuan dana operasional sebesar Rp5 juta per hektar juga diberikan, disertai pendampingan teknis guna memastikan produktivitas optimal.
Manajemen perusahaan menegaskan bahwa program ini dirancang untuk mendorong peningkatan hasil panen sekaligus menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan terintegrasi dengan kebutuhan industri.
Sebagai perusahaan agribisnis yang terus berkembang, sebelumnya telah fokus pada rantai pasok pangan dan hortikultura di kawasan Jabodetabek. Dengan dukungan angel investor, valuasi perusahaan kini telah mencapai sekitar Rp550 miliar—sebuah capaian signifikan bagi startup yang berdiri pada 2023.
Di balik perkembangan pesat ini, berdiri sosok sebagai Founder dan CEO, bersama selaku CTO sekaligus Co-Founder, serta yang mengawal arah kebijakan perusahaan.
Dalam sesi wawancara, Aep mengungkapkan bahwa perusahaan mulai membidik langkah besar berikutnya, yakni melantai di bursa saham melalui Initial Public Offering (IPO).
“Kami melihat IPO sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Target kami, kuartal III tahun 2027,” ujarnya.
Saat ini, perusahaan masih membuka peluang bagi investor strategis yang tidak hanya membawa modal, tetapi juga mampu mempercepat ekspansi dari sisi jaringan, teknologi, hingga pasar. Skema pendanaan pun fleksibel, termasuk opsi konversi utang menjadi ekuitas.
Menariknya, seluruh hasil panen jagung nantinya akan diserap langsung melalui jaringan supply chain internal perusahaan. Strategi ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus memastikan kualitas produk tetap terjaga di pasar.
Dengan langkah awal yang kuat ini, optimistis dapat berkontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus membuka jalan bagi peningkatan kesejahteraan petani di Kabupaten Bogor.
[SBR]





