Avtur Mahal, Tiket Pesawat Mencekik: Kapan Langit Indonesia Kembali Milik Rakyat?

Catatan: Dr. Suriyanto, Pd., SH., MH., Mkn

JAKARTA, PARLEMENRAKYAT.ID — Di tengah perayaan 81 tahun Indonesia merdeka, ada sebuah ironi yang masih dirasakan masyarakat: terbang di negeri sendiri justru terasa semakin mahal.

Bagi sebagian masyarakat, perjalanan udara bukan lagi sekadar pilihan transportasi, melainkan kebutuhan. Mahasiswa harus bepergian untuk menuntut ilmu, pasien membutuhkan akses ke rumah sakit rujukan, pelaku usaha harus menghadiri pameran atau bertemu mitra bisnis, sementara masyarakat perantauan ingin pulang ke kampung halaman.

Namun, harga tiket pesawat domestik yang tinggi membuat mobilitas tersebut semakin sulit.

Pertanyaan pun muncul: mengapa penerbangan dari Jakarta ke sejumlah kota di Indonesia bisa terasa jauh lebih mahal dibandingkan penerbangan dari Jakarta ke negara tetangga?

Salah satu persoalan yang patut mendapat perhatian serius adalah harga avtur, bahan bakar utama pesawat yang menjadi salah satu komponen penting dalam biaya operasional maskapai.

Ketika harga bahan bakar penerbangan tinggi, tekanan terhadap biaya operasional maskapai pada akhirnya berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui harga tiket.

Avtur dan Beban Harga Tiket

Persoalan harga avtur bukan sekadar urusan maskapai. Ini menyangkut kepentingan masyarakat luas.

Jika distribusi dan mekanisme pembentukan harga avtur tidak kompetitif, maka dampaknya dapat menjalar ke seluruh sektor penerbangan. Biaya perjalanan meningkat, harga tiket ikut terdorong naik, dan masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Persoalannya semakin kompleks ketika distribusi avtur dinilai belum memberikan ruang persaingan yang cukup luas.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebelumnya telah menyoroti persoalan tata niaga dan persaingan dalam distribusi avtur. Evaluasi terhadap mekanisme pembentukan harga dan kesempatan bagi pelaku usaha lain untuk masuk ke pasar menjadi hal penting yang perlu dibuka secara transparan.

Sebab, pasar yang sehat membutuhkan kompetisi.

Semakin terbuka persaingan, semakin besar peluang terciptanya efisiensi harga. Sebaliknya, jika pasar terlalu terkonsentrasi pada sedikit pemain, masyarakat patut bertanya apakah struktur tersebut sudah memberikan harga yang paling efisien.

Ketika Tiket Menjadi Penghalang Mobilitas Rakyat

Dampak mahalnya tiket bukan hanya soal angka yang tercetak di aplikasi pemesanan penerbangan.

Di balik mahalnya tiket terdapat cerita mahasiswa yang mengurungkan niat kuliah di luar daerah, keluarga yang menunda perjalanan, pedagang kecil yang membatalkan keikutsertaan dalam pameran, hingga pasien yang kesulitan mendapatkan layanan kesehatan di kota lain.

Lebih berat lagi bagi masyarakat di wilayah Indonesia bagian timur dan daerah 3T.

Jarak yang jauh, keterbatasan infrastruktur, serta biaya distribusi energi yang tinggi membuat transportasi udara menjadi kebutuhan vital. Ketika harga tiket melambung, masyarakat di wilayah tersebut menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.

Indonesia adalah negara kepulauan. Bagi masyarakat di Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, maupun wilayah kepulauan lainnya, pesawat bukan sekadar alat transportasi mewah.

Pesawat adalah penghubung kehidupan.

Karena itu, persoalan harga tiket pesawat domestik harus dilihat sebagai persoalan konektivitas nasional dan keadilan ekonomi.

Mengapa Terbang ke Luar Negeri Bisa Terasa Lebih Murah?

Perbandingan harga penerbangan domestik dan internasional kerap menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.

Bagaimana mungkin penerbangan dari Indonesia ke negara tetangga terkadang menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan penerbangan antarkota di Indonesia?

Tentu persoalan ini tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu faktor. Harga tiket dipengaruhi banyak komponen, mulai dari harga bahan bakar, jarak penerbangan, biaya bandara, pajak, tingkat keterisian pesawat, biaya operasional, struktur pasar, hingga kebijakan masing-masing negara.

Namun, justru karena banyak faktor tersebut, pemerintah perlu membuka seluruh komponen pembentuk harga secara transparan.

Masyarakat berhak mengetahui: seberapa besar biaya avtur, pajak, airport charge, fuel surcharge, serta komponen lainnya membentuk harga tiket yang mereka bayar?

Transparansi adalah kunci.

Jangan Sampai Rakyat Menjadi Korban Struktur Pasar

Industri penerbangan membutuhkan investasi besar. Tidak mudah bagi maskapai baru untuk masuk dan bersaing dengan pemain yang sudah memiliki jaringan, armada, slot penerbangan, serta infrastruktur pendukung.

Karena itu, pemerintah memiliki pekerjaan besar untuk memastikan industri penerbangan tetap sehat, kompetitif, dan tidak menciptakan beban yang berlebihan bagi masyarakat.

Persaingan usaha bukan berarti pemerintah harus mencampuri seluruh mekanisme pasar.

Namun, pemerintah wajib memastikan bahwa pasar benar-benar berjalan sehat dan konsumen tidak menjadi korban dari struktur pasar yang tidak kompetitif.

Saatnya Pemerintah Berani Membuka Jalan

Jika persoalan harga avtur menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap mahalnya tiket, maka evaluasi terhadap tata kelola avtur harus dilakukan secara serius.

Beberapa langkah layak dipertimbangkan: membuka ruang persaingan distribusi avtur secara sehat, mengevaluasi formula pembentukan harga, meningkatkan transparansi komponen biaya, memberikan kebijakan khusus bagi wilayah 3T, serta mendorong kompetisi yang sehat di industri penerbangan.

Kebijakan tersebut harus dibangun dengan satu tujuan utama: menurunkan beban masyarakat tanpa mengorbankan keselamatan dan keberlangsungan industri penerbangan.

Indonesia membutuhkan industri penerbangan yang kuat. Maskapai harus tetap sehat, pekerja harus terlindungi, investasi harus tumbuh, tetapi masyarakat juga harus mendapatkan harga yang wajar.

Merdeka Bukan Sekadar Bisa Mengibarkan Bendera

81 tahun Indonesia merdeka seharusnya menjadi momentum untuk kembali bertanya: apakah kemerdekaan sudah benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari?

Kemerdekaan bukan hanya tentang upacara, bendera dan perayaan.

Kemerdekaan juga berarti masyarakat memiliki akses terhadap transportasi yang layak dan terjangkau.

Jangan sampai seorang anak harus berpikir berkali-kali untuk pulang menemui orang tuanya karena harga tiket terlalu mahal.

Jangan sampai seorang mahasiswa mengurungkan cita-citanya karena biaya perjalanan.

Jangan sampai pasien menunda pengobatan karena tidak mampu membeli tiket pesawat.

Dan jangan sampai masyarakat di wilayah timur Indonesia merasa semakin jauh dari pusat pembangunan hanya karena biaya transportasi yang tidak terjangkau.

Kado HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang paling berarti bukan sekadar perayaan.

Kado itu adalah kebijakan yang membuat rakyat lebih mudah bergerak, lebih mudah pulang, lebih mudah berusaha, dan lebih mudah mengakses pendidikan serta pelayanan kesehatan.

Buka persaingan avtur. Evaluasi struktur biaya. Benahi industri penerbangan. Lindungi konsumen.

Karena langit Indonesia bukan hanya milik maskapai.

Langit Indonesia adalah ruang hidup seluruh rakyat Indonesia.

Dan kemerdekaan yang sejati adalah ketika rakyat dapat terbang di negerinya sendiri tanpa harus menjual harta benda hanya untuk membeli tiket pulang kampung.

Catatan: Dr. Suriyanto, Pd., SH., MH., Mkn

Facebook Comments Box

Pos terkait