“Ngopi, Berdiskusi, dan Bertahan di Era Digital: IWO Bogor Raya Satukan Semangat Wartawan Multiplatform”

BOGOR, PARLEMENRAKYAT.ID – Di tengah gemerlap dunia digital yang bergerak tanpa jeda, para jurnalis di Bogor memilih berkumpul dalam suasana sederhana namun penuh makna. Jumat sore (22/5/2026), Kopi Pemuda menjadi saksi hangatnya silaturahmi keluarga besar Ikatan Wartawan Online (IWO) Bogor Raya.

Di balik aroma kopi dan tawa ringan yang pecah di setiap sudut ruangan, tersimpan kegelisahan sekaligus semangat para wartawan menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat. Dunia jurnalistik hari ini tak lagi sama. Jika dulu wartawan cukup membawa buku catatan dan kamera, kini mereka harus mampu menaklukkan banyak peran sekaligus.

Ketua IWO Bogor, Brodin, menyampaikan bahwa silaturahmi ini menjadi perekat penting di tengah tantangan profesi yang semakin berat.

“Silaturahmi ini bukan hanya menjaga hubungan baik, tapi juga memperkuat rasa kebersamaan sesama wartawan,” ujarnya dengan penuh semangat.

Dalam pertemuan itu, para jurnalis berbicara terbuka tentang realita profesi saat ini. Wartawan kini dituntut menjadi “pasukan lengkap” di era digital — menulis berita, mengambil video, mengedit konten, membuat infografis, hingga tampil sebagai presenter di media sosial.

Agus Purwanto menegaskan bahwa di tengah derasnya persaingan konten digital, etika jurnalistik tetap harus menjadi pegangan utama. Menurutnya, kecepatan informasi jangan sampai mengorbankan kebenaran.

Sementara Asep Bucek menilai silaturahmi seperti ini sangat penting untuk memperkuat koordinasi dan solidaritas antar awak media.

Obrolan semakin menarik ketika pembahasan masuk pada fenomena “wartawan multiplatform”. Kini satu berita harus mampu hidup di berbagai ruang digital: portal berita, Instagram, TikTok, YouTube, podcast, hingga Threads. Jurnalis bukan hanya pemburu fakta, tetapi juga kreator konten yang harus kreatif mengikuti algoritma.

Meski penuh tekanan dan tuntutan, semangat para wartawan Bogor Raya tampak tidak surut. Pertemuan sederhana di kedai kopi itu justru menjadi pengingat bahwa di balik kerasnya dunia digital, masih ada ruang kebersamaan yang menguatkan.

Silaturahmi tersebut menjadi lebih dari sekadar pertemuan rutin. Ia berubah menjadi simbol perjuangan insan pers untuk terus bertahan, beradaptasi, dan tetap menjaga marwah jurnalistik di tengah derasnya arus informasi modern.

[ROBY]

Facebook Comments Box

Pos terkait