Paket Diretur Diam-Diam, Konsumen Meradang: Ada Apa dengan Pelayanan J&T Cargo Banyuates?

SAMPANG, PARLEMENRAKYAT.ID – Kepercayaan pelanggan terhadap jasa pengiriman kembali dipertaruhkan. Kali ini sorotan tajam mengarah kepada J&T Cargo Banyuates setelah seorang konsumen mengaku menjadi korban pelayanan yang dinilai jauh dari kata profesional.

Bukannya menerima paket yang telah lama ditunggu, Bang Riri justru mendapati barang kirimannya dikembalikan kepada pengirim tanpa pemberitahuan, tanpa konfirmasi, dan tanpa penjelasan yang memadai. Peristiwa yang terjadi pada Minggu (31/05/2026) itu memunculkan tanda tanya besar: apakah hak konsumen masih menjadi prioritas dalam layanan pengiriman tersebut?

“Saya tidak pernah diberi informasi kalau paket akan diretur. Tiba-tiba barang dikembalikan begitu saja,” ungkap Bang Riri dengan nada kecewa.

Ironisnya, sebelum paket diretur, penerima mengaku telah diminta mengambil sendiri barangnya di kawasan Pasar Tlagah, Kecamatan Banyuates. Permintaan itu dianggap janggal, mengingat biaya pengiriman telah dibayarkan untuk layanan antar ke alamat tujuan, bukan untuk memaksa pelanggan menjadi kurir bagi paketnya sendiri.

Di tengah pesatnya perkembangan bisnis logistik, pelayanan semacam ini dinilai menjadi kemunduran. Konsumen membeli jasa pengiriman karena menginginkan kepastian barang sampai ke tangan penerima, bukan sekadar dipindahkan ke titik tertentu lalu ditinggalkan menjadi urusan pelanggan.

“Kalau harus ambil sendiri, untuk apa bayar ongkos kirim? Yang rugi bukan hanya saya, tapi juga pengirim yang sudah mengeluarkan biaya,” tegasnya.

Persoalan ini ternyata bukan cerita baru. Sejumlah warga di wilayah Tlagah dan sekitarnya mengaku pernah mengalami hal serupa. Paket tidak diantar ke rumah, melainkan dititipkan di lokasi tertentu dan penerima diminta datang mengambil sendiri. Bahkan beredar keluhan adanya biaya tambahan sekitar Rp2.000 per paket saat pengambilan.

Jika keluhan-keluhan tersebut benar terjadi secara berulang, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar kualitas pelayanan, melainkan kredibilitas perusahaan di mata masyarakat.

Saat dikonfirmasi wartawan, kurir J&T Cargo bernama Saiful tidak memberikan penjelasan rinci terkait alasan paket diretur. Ia hanya membenarkan bahwa penerima memang diminta menjemput sendiri barang kirimannya.

Sementara itu, Owner J&T Cargo setempat, Yuyun, menyampaikan alasan yang justru memantik polemik baru. Dalam pesan yang diterima wartawan, ia menyebut kondisi geografis Madura sebagai kendala utama.

“Memang di Madura begitu, karena rumahnya tidak ada nomornya dan di pegunungan,” tulisnya.

Pernyataan tersebut sontak menuai kritik. Banyak pihak menilai alasan geografis tidak bisa dijadikan tameng atas kegagalan pelayanan. Sebab faktanya, berbagai perusahaan ekspedisi lain tetap mampu menjangkau wilayah pelosok dengan sistem koordinasi yang lebih baik dan komunikasi yang lebih profesional.

Justru di sinilah letak persoalannya. Ketika pelanggan tidak mendapatkan informasi yang jelas, ketika paket diretur tanpa pemberitahuan, dan ketika tanggung jawab pengantaran dialihkan kepada konsumen, maka yang muncul bukan sekadar kekecewaan, melainkan hilangnya kepercayaan.

Kasus yang dialami Bang Riri kini menjadi cermin bagi perusahaan jasa pengiriman. Di era digital yang serba cepat, pelanggan tidak hanya membeli layanan antar barang, tetapi juga membeli kepastian, komunikasi, dan tanggung jawab.

Jika keluhan seperti ini terus berulang tanpa evaluasi dan perbaikan, bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat akan terkikis sedikit demi sedikit. Sebab dalam dunia jasa, satu paket yang gagal sampai bisa berujung pada hilangnya ribuan pelanggan di kemudian hari.

[RED]

Facebook Comments Box

Pos terkait