BOGOR, PARLEMENRAKYAT.ID – Ribuan langkah para pendekar menggema di Kota Bogor. Sebanyak 1.500 pesilat dari berbagai perguruan berkumpul dalam gelaran Gebyar Pesilat untuk memperingati Hari Jadi Kota Bogor ke-544, Minggu (14/6/2026).
Namun, kegiatan ini bukan sekadar ajang berkumpul atau unjuk kemampuan bela diri. Di balik derap langkah para pesilat, tersimpan pesan besar: menjaga warisan budaya bangsa sekaligus membangun mimpi menjadikan Kota Bogor sebagai kota yang dikenal dengan kekuatan pencak silatnya.
Suasana penuh semangat terlihat ketika para pesilat dari berbagai perguruan menyatukan langkah dalam satu panggung kebersamaan. Mereka hadir membawa semangat yang sama, yakni merawat budaya leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.
Ketua Harian IPSI Kota Bogor sekaligus Pengurus PPSI Pusat, Pirman Hidayat, mengungkapkan bahwa Gebyar Pesilat merupakan bentuk kepedulian para pendekar terhadap Kota Bogor.
“Kami kumpulkan seluruh pesilat di sini sebagai bentuk kepedulian terhadap warisan budaya bangsa dan rasa syukur atas hari jadi Kota Bogor,” ujar Pirman.
Menurutnya, jumlah peserta yang hadir mencapai sekitar 1.400 hingga 1.500 orang dari 24 perguruan silat. Jumlah tersebut baru sebagian dari total perguruan yang tergabung dalam IPSI dan PPSI Kota Bogor.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi awal dari kebersamaan yang lebih kuat antarperguruan silat.
“Harapan kami, kegiatan ini menjadi awal kebersamaan para pesilat untuk selalu peduli terhadap Kota Bogor. Ke depan, semoga bisa menjadi agenda rutin setiap hari jadi kota,” katanya.
Bukan Sekadar Tradisi, Pesilat Ingin Ukir Prestasi
Sementara itu, Ketua PPSI Kota Bogor, Hizriandra Putra, menyampaikan bahwa Gebyar Pesilat bukan milik satu organisasi, melainkan menjadi rumah bersama bagi seluruh insan pencak silat di Kota Bogor.
Ia menegaskan, pencak silat harus mampu bergerak lebih jauh, bukan hanya menjaga tradisi tetapi juga mencetak prestasi.
“Ke depan kami akan memperkuat jati diri pesilat Kota Bogor dan menggaungkan semangat agar Kota Bogor dikenal sebagai Kota Pesilat,” ungkapnya.
Hizriandra juga memperkenalkan gagasan “Makot Simaung Raga” sebagai identitas bersama para pesilat Kota Bogor. Menurutnya, nama tersebut menjadi simbol persatuan seluruh perguruan silat, bukan milik kelompok tertentu.
Harapan Besar untuk Pemerintah Daerah
Di tengah semangat para pendekar, muncul harapan agar pemerintah daerah semakin melihat pencak silat sebagai potensi besar Kota Bogor.
Hizriandra menilai pencak silat memiliki peluang besar untuk berkembang hingga tingkat internasional. Terlebih, selama ini banyak pesilat dari berbagai negara yang datang ke Kota Bogor.
“Potensi ini harus menjadi kekuatan dan aset daerah. Kami ingin pemerintah melihat bahwa pesilat adalah bagian dari sejarah dan budaya Kota Bogor,” tuturnya.
Ia juga berharap para pemimpin daerah ke depan dapat memberikan ruang lebih besar bagi perkembangan pencak silat.
“Kami ingin bergerak dari tradisi menuju prestasi, agar generasi berikutnya bisa melanjutkan warisan ini dengan rasa bangga,” pungkasnya.
Gebyar Pesilat Kota Bogor menjadi bukti bahwa pencak silat bukan hanya olahraga bela diri. Ia adalah identitas, budaya, dan warisan bangsa yang hidup di tengah masyarakat.
Dari Kota Bogor, para pendekar mengirim pesan kuat: silat harus terus berdiri, berkembang, dan menjadi kebanggaan hingga dunia.
[ROBI]





