KOTAWARINGIN, PARLEMENRAKYAT.ID – Setelah sekitar lima bulan dilanda kemarau yang mengeringkan harapan masyarakat, warga Desa Sungai Hanya, Kecamatan Antang kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), berkumpul dalam satu ikatan doa dan adat. Sekitar 500 warga menggelar Ritual Adat Dayak Manue, sebuah tradisi leluhur yang diwariskan turun-temurun sebagai bentuk permohonan agar hujan segera membasahi bumi yang lama dilanda kekeringan.
Sejak prosesi dimulai, suasana penuh kekhidmatan menyelimuti lokasi acara. Tokoh adat, para tetua, hingga masyarakat dari berbagai kalangan mengikuti setiap tahapan ritual dengan penuh penghormatan terhadap warisan budaya Dayak.
Salah seorang warga, Suhardi, menjelaskan bahwa Ritual Manue merupakan bagian dari tradisi adat Dayak yang masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Sungai Hanya.

“Manue merupakan ritual adat Dayak. Pelepasannya dipimpin oleh tokoh adat Dayak Sungai Hanya, Bapak Singer, yang merupakan seorang Pisur,” ujar Suhardi kepada wartawan.
Menurutnya, ritual tersebut menjadi ikhtiar bersama masyarakat di tengah kemarau yang telah berlangsung sekitar empat hingga lima bulan.
“Kami berharap hujan segera turun agar kekeringan yang sudah berlangsung berbulan-bulan ini segera berakhir,” katanya.

Momen yang paling membekas terjadi sesaat setelah prosesi adat selesai dilaksanakan. Langit yang sebelumnya kering perlahan berubah, dan hujan pun turun di wilayah tersebut. Turunnya hujan setelah ritual berakhir disambut dengan rasa syukur dan sukacita oleh warga yang hadir.
Bagi masyarakat Desa Sungai Hanya, Ritual Manue bukan sekadar seremoni adat, melainkan simbol kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta upaya menjaga identitas budaya Dayak agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
[REDAKSI]





