BANDA ACEH, PARLEMENRAKYAT.ID — Tepuk tangan menggema saat nama Ir. Nurchalis, SP., M.Si. diumumkan sebagai penerima Anugerah Gebrakan Sang Pemimpin dalam Serambi Awards 2026. Namun, bagi Ketua Fraksi Partai NasDem DPR Aceh itu, penghargaan tersebut bukan sekadar simbol keberhasilan, melainkan pengingat bahwa perjuangan membangun Aceh masih harus terus dilanjutkan.
Di balik trofi yang diterimanya, tersimpan sebuah visi besar: menjadikan Barat Selatan Aceh (Barsela) sebagai poros pertumbuhan ekonomi baru yang lahir dari kekuatan daerah sendiri, bukan bergantung pada pihak luar.
Barsela, Harta Karun Aceh yang Siap Dibangkitkan
Bagi Nurchalis, Barsela bukan hanya bentangan wilayah yang terdiri dari Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Subulussalam hingga Simeulue. Kawasan itu adalah harta karun yang selama ini belum sepenuhnya dimaksimalkan.
Ia melihat setiap daerah memiliki identitas, sumber daya, dan keunggulan yang berbeda. Perbedaan itu, menurutnya, harus dirajut menjadi kekuatan kolektif melalui pembangunan yang saling terhubung.
Karena itu, ia mendorong lahirnya kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat agar bergerak dalam satu arah yang sama.
“Jika berjalan sendiri-sendiri, potensi akan habis sebagai angka. Tetapi jika disatukan, Barsela dapat menjadi mesin pertumbuhan baru bagi Aceh,” menjadi semangat yang terus ia bawa.
Gagasan 3M: Mengubah Kekayaan Menjadi Kemakmuran
Di tengah besarnya kekayaan alam Aceh, Nurchalis menawarkan sebuah konsep sederhana namun strategis: 3M—Mengelola di Aceh, Memproduksi di Aceh, dan Menjual dari Aceh.
Gagasan itu lahir dari keyakinannya bahwa Aceh tidak boleh terus berada pada posisi sebagai pengekspor bahan mentah.
Batu bara, hasil laut, perkebunan sawit, hingga potensi pesisir Samudra Hindia harus diolah di tanah sendiri agar nilai tambahnya tetap tinggal di Aceh.
Baginya, hilirisasi bukan hanya soal industri.
Hilirisasi adalah tentang membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memastikan hasil pembangunan benar-benar kembali kepada rakyat.
Dunia Usaha dan Kampus Harus Menjadi Mitra Perubahan
Dalam pandangannya, pembangunan tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah.
Ia mengajak perusahaan swasta maupun BUMN menjadikan program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Sementara itu, perguruan tinggi didorong menjadi pusat inovasi yang mampu menghadirkan solusi atas persoalan nyata di lapangan.
“Kampus tidak boleh berhenti sebagai tempat mencetak lulusan. Kampus harus menjadi dapur lahirnya ide-ide yang menggerakkan perubahan.”
Pengalaman Panjang Menjadi Fondasi Kepemimpinan
Cara pandang Nurchalis dibentuk oleh perjalanan yang panjang.
Kariernya dimulai di lingkungan Kementerian Kehutanan dan Perkebunan pada tahun 2000 sebelum mengemban berbagai jabatan strategis di pemerintahan Aceh, mulai dari investasi, produksi perkebunan, administrasi pembangunan hingga pengadaan.
Di luar birokrasi, ia aktif di organisasi profesi, kepemudaan, dan dunia usaha.
Semangat belajar juga menjadi bagian penting dalam hidupnya. Lulusan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala itu melanjutkan pendidikan Magister Agribisnis hingga menempuh pendidikan doktoral di bidang ilmu pertanian.
Baginya, pemimpin harus terus memperbarui pengetahuan agar kebijakan yang lahir mampu menjawab tantangan zaman.
Kegagalan Menjadi Batu Loncatan
Perjalanan politiknya tidak selalu mulus.
Ia pernah maju sebagai calon Wakil Bupati Nagan Raya pada 2007 dan calon Bupati pada 2017. Dua kontestasi itu belum berakhir dengan kemenangan.
Namun, bagi Nurchalis, kegagalan bukan akhir perjalanan.
Justru pengalaman itulah yang menguatkan langkahnya hingga dipercaya memimpin Fraksi Partai NasDem DPR Aceh periode 2025–2029.
Penghargaan yang Membawa Tanggung Jawab Lebih Besar
Bagi Nurchalis, Serambi Awards 2026 bukanlah garis finis.
Penghargaan itu menjadi titik tolak untuk memastikan gagasan tentang kolaborasi, hilirisasi, dan pembangunan Barsela benar-benar diwujudkan dalam kebijakan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia percaya, Aceh memiliki semua modal untuk bangkit.
Yang dibutuhkan hanyalah keberanian mengelola potensi sendiri, kesediaan membangun kolaborasi lintas sektor, dan komitmen agar setiap hasil pembangunan kembali berpihak kepada rakyat.
Dari Barsela, sebuah optimisme sedang tumbuh—bahwa masa depan Aceh tidak harus menunggu datang dari luar, tetapi dapat dibangun oleh tangan-tangan anak daerah yang percaya pada kekuatan tanahnya sendiri.
[ZEBUA]





