Ketahanan Energi Indonesia Makin Kokoh, DEN Gandeng IPB Percepat Kedaulatan Energi Nasional

BOGOR, PARLEMENRAKYAT.ID – Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia dan tantangan transisi energi global, Indonesia terus memperkuat fondasi ketahanan energinya. Kabar menggembirakan datang dari Dewan Energi Nasional (DEN) yang mencatat peningkatan signifikan Indeks Ketahanan Energi Indonesia tahun 2025.

Hal tersebut terungkap dalam Sarasehan Energi bertajuk “Transisi Energi dalam Memitigasi Konflik Global” yang digelar DEN bersama IPB University di Bogor, Rabu (10/6). Forum ini menjadi ajang strategis untuk mempertemukan pemangku kepentingan dari sektor energi, akademisi, hingga dunia usaha dalam merumuskan langkah menuju kedaulatan energi nasional.

Anggota DEN, Satya Widya Yudha, mengungkapkan bahwa Indeks Ketahanan Energi Indonesia tahun 2025 mencapai skor 7,13 atau masuk kategori “Tahan”, meningkat 0,39 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia berada pada jalur yang tepat dalam memperkuat sektor energi nasional. Peningkatan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) yang konsisten serta berkurangnya ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan indeks tersebut.

“Keberhasilan ini juga tidak lepas dari kontribusi dunia akademik, khususnya IPB University, melalui berbagai riset dan inovasi yang mendukung implementasi program Biodiesel 40 persen (B40),” ujar Satya.

Ia menjelaskan, pemerintah saat ini tengah menjalankan strategi besar menuju kedaulatan energi melalui tiga pilar utama, yakni kemandirian energi, ketahanan energi, dan swasembada energi.

Dalam upaya mewujudkan kemandirian energi, pemerintah menargetkan penghentian impor solar dan avtur pada tahun 2026. Selanjutnya, impor bensin jenis RON 92, RON 95, dan RON 98 ditargetkan berhenti pada tahun 2028.

Sementara itu, penguatan ketahanan energi dilakukan melalui peningkatan cadangan energi nasional yang saat ini berada pada kisaran 18 hingga 21 hari menjadi minimal 30 hari. Pemerintah juga mempercepat implementasi bioetanol sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin.

Tak hanya itu, agenda swasembada energi juga terus didorong melalui peningkatan lifting minyak dan gas bumi, percepatan penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai, hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti LPG, serta penambahan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan.

Satya menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mewujudkan target-target tersebut. Karena itu, ia berharap IPB terus memperkuat riset terkait biodiesel dan bioetanol, termasuk pengembangan sistem logistik, infrastruktur penyimpanan, hingga pemanfaatan sumber daya hayati tropis sebagai bahan baku energi masa depan.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal DEN, Dadan Kusdiana, menegaskan bahwa sektor energi dan pertanian merupakan dua sektor yang tidak dapat dipisahkan dalam mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Menurutnya, sektor pertanian memiliki potensi besar dalam menyediakan sumber energi ramah lingkungan melalui biomassa, biogas, dan biofuel. Sebaliknya, sektor pertanian juga membutuhkan dukungan energi yang andal dan terjangkau, khususnya gas bumi yang menjadi komponen penting dalam industri pupuk nasional.

“Penguatan sinergi antara kedua sektor ini mutlak diperlukan demi mewujudkan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan pembangunan berkelanjutan secara bersamaan,” tegas Dadan.

Komitmen dunia akademik terhadap agenda transisi energi nasional turut ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Resiliensi Sumberdaya dan Infrastruktur IPB, Heti Mulyati. Ia menyampaikan bahwa IPB secara konsisten mengembangkan berbagai penelitian multidisiplin yang berfokus pada biomassa, bioenergi, biomaterial, dan teknologi pengolahan energi berbasis sumber daya hayati.

Menurut Heti, berbagai inovasi yang lahir dari kampus diharapkan mampu menjadi solusi nyata dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung terwujudnya kedaulatan energi Indonesia.

Sarasehan Energi DEN-IPB juga menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Anggota DEN Mohamad Fadhil Hasan, Vice President Commercial & Shipping Business Development PT Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan, Dekan Sekolah Bisnis IPB Noer Azam Achsani, serta Kepala Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi IPB Meika Syahbana Rusli.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri, Indonesia optimistis mampu mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat posisi sebagai negara yang mandiri, tangguh, dan berdaulat di bidang energi di tengah dinamika global yang terus berubah.

[PENIEL ZEBUA]

Facebook Comments Box

Pos terkait