Ketua PMII ‘Wahab Sunandar Tanggapi Kebijakan Pemkot Bogor Terkait Larangan Berziarah di Masa Pandemi Covid -19.

by

Parlemenrakyat.id – Kebijakan pemerintah kota Bogor melarang ziarah kubur pada tanggal 12-16 Mei 2021 atau pada saat Idul Fitri tentu tidak menghargai sebuah adat atau kebiasaan yang sudah sejak lama dilakukan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Kota Bogor, mengingat Idul Fitri adalah momen bagi umat Islam untuk saling menaafkan dan mensucikan diri daripada kesalahan yang bersifat adamiyyi ( Dosa kepada manusia). Biasanya masyarakat pada umumnya memanfaatkan momen ini untuk berziarah dan mendoakan keluarga atau kerabatnya yang sudah meninggal. Karena itulah ciri khas masyarakat Indonesia untuk merayakan idul fitri dengan berziarah ke makan ayah/ibu/kakek/nenek atau saudara lainnya.

Lalu , bagaimana tentang larangan yang disebutkan oleh walikota Bogor Bima arya terkait ziarah kubur di hari raya Idul Fitri?

Menurut Bima Arya larangan ziarah ini merupakan salah satu poin hasil dari keputusan pertemuan kepala daerah Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi, dan Cianjur dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Senin (10/5/2021)

Kebijakan ini dikeluarkan dengan alasan menekan lonjakan kasus Covid-19. Menanggapi hal itu Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Pakuan Bogor Sahabat Wahab Sunandar mengatakan bahwa kebijakan larangan ziarah ini tidak tepat apabila tujuannya untuk menekan lonjakan kasus Covid-19.

“Aktifitas masyarakat dikala momen tertentu apalagi di hari raya Idul FItri yang mana merupakan hari kemenangan bagi umat islam tidak seharusnya dihalangi oleh sebuah kebijakan pemerintah, apalagi aktifitas itu merupakan hukum kebiasaan masyarakat yang telah lama berlangsung dan berulang-ulang setiap tahunnya,” ucap Wahab.

Menurut Wahab, bahwa kebijakan pemkot Bogor tentang larangan ziarah ini telah keluar dari Asas penyelenggaraan Pemerintahan sebagaimana tertuang dalam UU No 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.

“Betul bahwa setiap kebijakan pemerintah daerah harus berdasarkan Undang-undang. Hari ini pemerintah Kota Bogor telah melupakan budaya masyarakatnya dan menggerus itu dengan sebuah larangan. Padahal jelas tertera dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah bahwa setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah harus memenuhi asas-asas yang terkandung didalamnya khususnya asas kepentingan umum. Padahal jelas tertera dalam pasal 58 huruf c asas kepentingan umum ini tertera dan tafsiran dari asas ini bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan harus mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif,” tambahnya.

Wahab juga menambahkan bahwa larangan ziarah ini tidak mengakomodasi kultur masyarakat Kota Bogor yang selalu berziarah ketika hari raya Idul Fitri, akan tetapi menjauhkan dan menghilangkan kultur tersebut.

Selain itu, Sekretaris Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Pakuan Bogor Sahabat Edwin Aditia turut menanggapi kebijakan larangan ziarah ini.

Menurutnya, pada dasarnya ziarah kubur bukanlah suatu hal yang dilarang dalam islam, demikian juga ziarah pada hari raya. Memang pada awalnya Rasul  melarang umat islam untuk melaksanakan ziarah kubur karena takut umatnya meminta-minta di kuburan sebagaimana kebiasaan kaum jahiliyah.  Kemudian selang beberapa waktu Rasul SAW memperbolehkan umatnya untuk berziarah kubur untuk mengingat kematian dan akhirat. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut :

“Sesungguhnya aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahilah kuburan.” (HR. Muslim, Abu Dawud, al Baihaqi, an Nasa’i, dan Ahmad).

Dari hadits diatas jelas dikatakan bahwa islam tidak melarang pemeluklnya untuk berziarah kubur.

“Entah kapan waktunya, baik itu Idul Fitri ataupun diluar Idul Fitri, islam jelas memperbolehkan berziarah,” ucap Edwin.

Perilaku ziarah kubur juga dilakukan oleh Rasulullah, hal ini beliau lakukan setelah malaikat Jibril menemui Rasulullah seraya berkata:

“Tuhanmu memerintahkanmu agar mendatangi ahli kubur baqi’ agar engkau memintakan ampunan buat mereka” (HR. Muslim)

Berdasarkan dalil-dalil dalam hadits di atas, dapat dikatakan bahwa ziarah kubur adalah hal yang diperbolehkan bahkan tergolong sebagai hal yang dianjurkan (sunnah). Anjuran melaksanakan ziarah kubur ini bersifat umum, baik menziarahi kuburan orang-orang shalih ataupun menziarahi kuburan orang Islam secara umum. Imam al Ghozali menegaskan tentang perilaku ziarah kubur dalam Kitab Ihya Ulumuddin , Juz 4 Hal 521 yang artinya :

“Ziarah kubur disunnahkan secara umum dengan tujuan untuk mengingat (kematian) dan mengambil pelajaran, dan menziarahi kuburan orang-orang shalih disunnahkan dengan tujuan untuk tabarruk (mendapatkan barakah) serta pelajaran,” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Dien, juz 4, hal. 521).

Selain berbicara dari sisi keislaman Edwin juga menambahkan bahwa seharusnya bukan ziarahnya yang dihilangkan akan tetapi tinggal ditambahkan dengan protokol kesehatan yang sesuai sehingga tujuan daripada menekan lonjakan kasusu Covid-19 bisa berjalan tanpa menyingkirkan kebiasaan masyarakat.( aldi )

Leave a Reply

No More Posts Available.

No more pages to load.