Dinamika Politik Pro Rakyat

by -298 views

Parlemenrakyat.id – Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 80an tahun kemerdekaan, seorang Presiden terpilih mengangkat saudara lawannya dalam Pilpres menjadi menteri menterinya.
Apa makna dibalik itu?

Menurut Oscar Dany Susanto selaku pendiri dari Partai Indonesia Terang ( Pinter ) menyikapinya, karena Presiden Jokowi berkehendak mengurangi dampak negatif dari Demokrasi Liberal yang sudah diusungnya sejak reformasi.

“Memang Jokowi hendak mengisi dengan yang baik tentang Demokrasi Pancasila. Pasca kita tinggalkan sejak 2004.
Apa sajakah yg baik” itu? Bahwa lawan tanding dalam Pilpres bukan oposisi sebagaimana dikenal dalam Sistem Demokrasi Liberal,” ungkap Oscar yang menjabat juga sebagai Wakil Presiden Pinter kepada media di Kantor DPP di Jakarta, Rabu ( 21/04/21 ).

Menurut pandangannya, yang sekarang berada di seberang bukan musuh, melainkan partner dalam mengisi makna Demokrasi yang tidak melulu setengah ditambah 1. Sama halnya dengan Presiden Megawati setelah dilantik MPR tahun 2002 menggantikan Presiden Abdurrahman Wahid.

“Dengan ikhlas dan terbuka, Presiden Megawati Soekarno Putri mengajak Hamzah Haz dari Partai PPP sebagai Wakil Presiden.Padahal waktu itu Hamzah Haz adalah sosok yang dengan tegas menolak perempuan menjadi presiden dalam kampanye Legislatif tahun 1999,” ucapnya.

Oscar menambahkan, Kedua tokoh ini, Presiden Megawati & Presiden Jokowi kerap mengatakan atau mengindikasikan sikap bahwa dalam Sistem Demokrasi Pancasila itu tidak mengenal yang namanya oposisi.
Dan kini, hampir dua tahun usia Kabinet Kerja, Tetapi gerak laku yg dikerjakan “Sahabat Sahabat Jokowi” belumlah sejalan dengan apa yang dikehendaki oleh Presiden Jokowi.

“Para penghujat atau para kritikus di luar parlemen seperti sudah kebablasan, mereka tidak sekedar mengkritik, tapi mencela, sesuatu yang sebenarnya diharamkan juga dalam Sistem Demokrasi Liberal.
Menghina & mencela, mencaci maki dan mendeskreditkan bukan bahasa yang umum kita kenal dalam Sistem Demokrasi Liberal,” tegas Oscar.

Lebih dari itu, Oscar menggaris bawahi, kalimat atau kata-kata yang memiliki makna serupa hanya dikenal sebagai Invader dlm Sistem Totaliter. Makna dari Invader adalah klandestein, mereka senantiasa melawan penguasa yang dzalim. Karena hanya punya sikap “Rontokkan dan Gantikan Rejim Totaliter”.

“Di era Bung Karno ada zaman dimana kelompok ini beraksi, bukan di media massa atau media online seperti saat ini. Mereka langsung terjun ke dalam hutan bergerilya melakukan pemberontakan kepada pemerintahan yang sah secara konsitusi dan diakui umum. Apa indikasi senada akan dilakukan oleh Menhan kepada Presiden? Memberontak untuk mengambil tampuk kekuasaan?,” tandasnya.
Oscar menambahkan, coba perhatikan baik-baik, ketika Menhan memerintahkan Panglima TNI utk membentuk Detasemen Kawal Khusus ( Denwalsus ) yang salah satu tugasnya menerima tamu-tamu Kemenhan serta tidak diperinci apa tugas yang lainnya. Sesuatu yang tidak masuk akal, jika Detasemen tersebut cuma menggantikan Pamdal (Pengamanan Dalam).
“Setiap Kementerian senantiasa ada Pamdal untuk keamanan Menteri yang bersangkutan, baik di kantor maupun dirumah. Apakah keberadaannya untuk menyaingi atau menandingi Paspamres? Ini yang belum juga terjawab. Jadi untuk tujuan apa Denwalsus yang kesatuannya terdiri dari ketiga angkatan ini dibentuk?
Mari lah kita tunggu dalam waktu tak terlalu lama, apa reaksi Presiden Jokowi,” tukas Oscar Dany.

Rajiv

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.